Pemkot dan Transid Kolaborasi Aktivasi Ruang Literasi Warga

Minggu, 13 September 2026 20:51 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1002123435.jpg
penyerahan nota kesepahaman (MoU) oleh Wali Kota Surakarta Respati Ardianto kepada Founder Transid Mohammad Taufiq Hasan dalam acara Urun Rembug #7 di Pendopo Lodji Gandrung (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Komunitas Transid berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta mengaktivasi perpustakaan kampung dan taman cerdas melalui program literasi berbasis masyarakat. Komitmen tersebut ditandai dengan penyerahan nota kesepahaman (MoU) oleh Wali Kota Surakarta Respati Ardianto kepada Founder Transid Mohammad Taufiq Hasan dalam acara Urun Rembug #7 di Pendopo Lodji Gandrung, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan bertajuk “Pentingnya Aktivasi Perpustakaan Kampung dan Taman Cerdas se-Kota Surakarta” ini turut dihadiri Anggota Komisi IV DPRD Kota Surakarta Sekar Tandjung, serta melibatkan 220 volunteer dan 35 peserta magang dari perguruan tinggi seperti UIN Raden Mas Said, UNS, dan UMS.

Dalam sambutannya, Respati menegaskan pentingnya keterlibatan pemuda untuk turun langsung dan memahami kondisi warga secara riil di lapangan.

“Teman-teman yang mengikuti pelatihan ini bisa turun ke kampung-kampung, ngobrol dengan warga yang ada di masyarakat, memahami serta merasakan langsung kondisi mereka. Bukan hanya sekadar mengaktivasi sebuah kegiatan, tetapi juga bagaimana menyadarkan dan menumbuhkan minat baca anak-anak di kampung-kampung,” tegas Respati.

Guna menjalankan misi tersebut, Transid menerjunkan peserta magang dan volunteer ke 10 perpustakaan kampung. Salah satu program unggulan yang dihadirkan adalah Ruang Bercerita, yang dilengkapi dengan pameran karya serta voluntrip. Program ini dirancang agar fasilitas literasi tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, melainkan wadah mengekspresikan gagasan dan berinteraksi.

Founder Transid, Mohammad Taufiq Hasan, menyampaikan bahwa gerakan ini lahir secara organik dari keresahan warga Surakarta untuk menciptakan wadah tumbuh bersama. Rangkaian acara diakhiri dengan Focus Group Discussion (FGD), di mana para relawan dan pengurus perpustakaan mendalami modul pendampingan yang disesuaikan dengan karakteristik tiap lokasi.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi pijakan berkelanjutan dalam menghidupkan kembali taman cerdas dan perpustakaan kampung sebagai pusat edukasi serta kreasi masyarakat.