Mahasiswa UMS Raih Perunggu di JDIE 2026 Lewat PharmaSwift

Kamis, 15 Oktober 2026 05:29 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1002237725.jpg
Tim Mahasiswa UMS Raih Perunggu di JDIE 2026 Lewat PharmaSwift (Humas UMS)

SOLO (Soloaja.co) — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses mengukir prestasi di kancah internasional dengan meraih medali perunggu pada ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026. 

Prestasi tersebut diraih berkat inovasi di bidang kefarmasian bernama “PharmaSwift Reducing Waits, Delivering Care”, sebuah perangkat berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mempercepat proses penyiapan dan peracikan obat.

Inovasi ini lahir dari kegelisahan para mahasiswa melihat lamanya waktu tunggu pasien di fasilitas kesehatan, khususnya saat menanti resep obat disiapkan secara konvensional. Dalam sistem tradisional, apoteker harus mengambil dan meracik obat satu per satu secara manual.

Ketua Tim Pengembang PharmaSwift, Satria Gemilang Kusuma Perdana dari Program Studi Teknik Mesin, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut mendorong timnya menciptakan solusi berbasis teknologi.

"PharmaSwift berawal dari keresahan kami sebagai mahasiswa. Saat pemeriksaan kesehatan, peracikan obat memakan waktu cukup lama. Dari situ, kami berpikir membuat alat yang bisa meracik obat otomatis berdasarkan resep," ujar Gemilang, Selasa (13/10/2026).

Inovasi Lintas Disiplin Ilmu

Pengembangan PharmaSwift merupakan kolaborasi erat lintas disiplin ilmu di UMS. Di bawah bimbingan Ir. Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T., Gemilang bekerja sama dengan lima mahasiswa dari berbagai fakultas:

  • Maulia Hidayah (Prodi Gizi, FIK)
  • Muhammad Akmal Indratma (Prodi Teknik Mesin, FT)
  • Faiz Al Erza (Prodi Kedokteran, FK)
  • Bilqis Khans (Prodi Teknik Industri, FT)
  • Dani Hendrawan (Prodi Farmasi, FF)

Dari sisi teknis, PharmaSwift mengandalkan mikrokontroler ESP32 sebagai otak sistem pengendali. Alat ini dilengkapi berbagai sensor pintar, seperti sensor udara, sensor kelembapan, sensor penghitung jumlah obat, serta fitur sterilisasi otomatis untuk menjaga kebersihan obat.

PharmaSwift juga dirancang untuk terintegrasi dengan sistem MedLink Smart. Alur kerjanya dimulai saat pasien melakukan registrasi dan pemeriksaan. Dokter akan memasukkan diagnosis dan resep ke dalam situs web terintegrasi. Resep tersebut masuk ke sistem apoteker untuk diverifikasi ulang terkait dosis, usia pasien, serta potensi alergi obat.

Membantu, Bukan Menggantikan Peran Apoteker

Gemilang menegaskan bahwa keberadaan PharmaSwift tidak bertujuan menggantikan peran tenaga medis, melainkan menjadi asisten otomatis yang meningkatkan efisiensi kerja.

"Apoteker tetap memegang peranan kunci untuk verifikasi dosis dan keamanan pasien. Setelah resep disetujui apoteker, sistem PharmaSwift akan menyalurkan obat ke dalam baki secara otomatis," jelasnya.

Proses perancangan hingga pembuatan alat ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Meski berhasil meraih penghargaan di tingkat internasional, tim UMS berharap dapat terus menyempurnakan fitur dan performa PharmaSwift agar dapat diimplementasikan secara luas di dunia kesehatan kelak.