Langkah Legawa Go Tjong Ping Awali Era Baru Kelenteng Tuban

Jumat, 31 Juli 2026 07:12 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001954483.jpg
tokoh kelenteng, Go Tjong Ping, menggelar ritual pertobatan secara langsung di hadapan altar Kongco Kwan Sing Tee Koen pada Kamis, 30 Juli 2026. (Istimewa /Radar Tuban)

TUBAN (Soloaja.co) — Babak baru kedamaian kini benar-benar menyelimuti Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio dan Tjoe Ling Kiong Tuban setelah konflik bertahun-tahun resmi mereda. 

Momen rekonsiliasi tersebut semakin menguat saat salah satu tokoh kelenteng, Go Tjong Ping, menggelar ritual pertobatan secara langsung di hadapan altar Kongco Kwan Sing Tee Koen pada Kamis, 30 Juli 2026.

Mantan anggota DPRD Jawa Timur itu bersimpuh khusyuk menggenggam tiga batang hio untuk mengakui seluruh kekhilafan serta memohon maaf. 

‘’Saat itu saya salah ucap karena terbawa emosi dan marah. Hari ini, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Domo, istri, anak-anaknya, sekaligus perusahaan beliau,” ujarnya dilansir dari Jawa Pos Radar Tuban usai sembahyang. 

Pernyataan tersebut ditujukan secara khusus kepada CEO Kapal Api Global Soedomo Mergonoto, jajaran keluarga, hingga jajaran perusahaannya atas ucapan emosional yang sempat terlontar pada pertengahan Februari 2026 lalu.

Go Tjong Ping menegaskan bahwa pernyataan terdahulu murni lahir dari emosi sesaat. Sosok yang juga akrab disapa Teguh Prabowo Gunawan tersebut menyatakan kesiapan penuh untuk bertolak ke Surabaya apabila diundang, demi menyampaikan permohonan maaf secara langsung serta memastikan ikatan silaturahmi kembali terjalin rapat.

Setelah melakukan pertobatan dan permohonan maaf, ia mengaku hatinya jauh lebih tenang dan legowo. Dia merasa beban emosional dari pertikaian yang selama ini mengganjal perlahan sirna. 

Langkah terbuka ini menjadi krusial menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-1866 Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen pada awal Agustus mendatang. 

Dengan kesepakatan damai yang telah ditandatangani mayoritas umat di hadapan notaris, kembalinya keharmonisan di kelenteng terbesar se-Asia Tenggara ini diharapkan mampu mengembalikan iklim kondusif, memulihkan citra tempat ibadah, serta menyambut kembali kedatangan para peziarah dan wisatawan dari berbagai belahan daerah.