Unisri Surakarta
Minggu, 18 Oktober 2026 20:23 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

OPINI Arif Mustain, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi
SOLOAJA.CO - Untuk Apa Sekolah? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika pertanyaan tersebut mulai muncul dari anak yang masih duduk di bangku sekolah, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi di lingkungan kita?
Pertanyaan tersebut muncul dari apa yang saya lihat di lingkungan tempat saya tinggal. Saat ini, sebagian anak muda di kampung saya lebih sering menghabiskan waktu dengan nongkrong. Berkumpul bersama teman, sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Anak muda memang membutuhkan ruang untuk bersosialisasi dan menikmati waktu bersama. Namun, persoalannya muncul ketika hampir setiap hari waktu lebih banyak dihabiskan untuk nongkrong tanpa kegiatan yang mendorong mereka untuk berkembang.
Yang lebih membuat saya prihatin adalah ketika kebiasaan tersebut mulai memberikan pengaruh kepada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, terutama mereka yang masih SMP dan SMA. Anak-anak yang seharusnya sedang berada pada masa untuk belajar dan menentukan cita-cita justru berada dalam lingkungan pergaulan dengan pemuda yang lebih dewasa. Secara tidak langsung, lingkungan tersebut dapat ikut membentuk cara pandang mereka terhadap pendidikan, pekerjaan, dan masa depan.
Saya pernah mendengar ada anak yang mengatakan tidak ingin melanjutkan sekolah karena sudah tidak ingin memikirkan sekolah lagi. Ada pula beberapa anak yang akhirnya tidak melanjutkan pendidikan. Tentu, keputusan seseorang untuk berhenti sekolah tidak bisa hanya disebabkan oleh kebiasaan nongkrong. Ada banyak faktor yang mungkin memengaruhinya, seperti kondisi ekonomi keluarga, lingkungan, kurangnya motivasi, maupun persoalan lainnya. Namun, lingkungan pergaulan tetap menjadi sesuatu yang tidak boleh kita abaikan.
Di sinilah saya mulai melihat persoalan yang lebih besar. Ketika anak yang masih bersekolah setiap hari melihat orang-orang yang lebih dewasa di sekitarnya memilih bekerja dan mendapatkan uang tanpa melanjutkan pendidikan, bisa saja muncul pemikiran bahwa sekolah tidak terlalu penting. Mereka mungkin berpikir, “Untuk apa sekolah lama-lama kalau bekerja saja sudah bisa mendapatkan uang?”
Pemikiran seperti itu perlu diluruskan.
Bekerja dan mendapatkan uang memang penting. Apalagi bagi keluarga yang membutuhkan tambahan penghasilan. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk bekerja dan mandiri sejak muda. Namun, menjadi persoalan apabila mencari uang kemudian membuat seseorang menganggap pendidikan tidak lagi penting.
Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan ijazah.
Pendidikan juga membentuk cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, melihat masalah, dan menentukan pilihan dalam kehidupan. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin banyak pula kemungkinan yang dapat ia lihat untuk masa depannya.
Sayangnya, masih ada anggapan di lingkungan saya bahwa sekolah terlalu lama hanya akan membuang waktu, sedangkan bekerja bisa langsung menghasilkan uang. Cara berpikir seperti ini memang dapat dipahami, terutama ketika kebutuhan ekonomi terasa lebih mendesak. Tetapi kita juga perlu melihat lebih jauh: uang yang diperoleh hari ini belum tentu menjadi jaminan untuk kehidupan beberapa tahun ke depan.
Pendidikan juga tidak menjamin seseorang pasti sukses. Namun, pendidikan dapat memberikan bekal dan memperluas pilihan seseorang. Dengan pendidikan dan keterampilan yang lebih baik, seseorang memiliki kesempatan untuk mencoba lebih banyak bidang pekerjaan, mengembangkan usaha, mengikuti pelatihan, atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Karena itu, persoalan pendidikan di desa tidak cukup hanya diselesaikan dengan menyuruh anak-anak untuk rajin sekolah. Lingkungan mereka juga harus ikut dibenahi. Orang-orang yang lebih dewasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh yang baik kepada generasi di bawahnya.
Pemuda seharusnya tidak hanya menjadi kelompok yang paling sering berkumpul, tetapi juga menjadi kelompok yang mampu memberikan contoh. Kalau ingin nongkrong, mengapa tidak sekaligus membicarakan peluang usaha? Kalau ingin berkumpul, mengapa tidak membuat kegiatan olahraga? Kalau memiliki telepon genggam dan akses internet, mengapa tidak digunakan untuk belajar keterampilan baru? Kalau desa memiliki potensi pertanian, peternakan, UMKM, wisata, atau kebudayaan, mengapa tidak mencoba mengembangkannya bersama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, perubahan memang sering kali dimulai dari pertanyaan sederhana.
Saya percaya bahwa pemuda desa sebenarnya memiliki potensi yang besar. Mereka tidak kekurangan tenaga, kreativitas, maupun kesempatan untuk belajar. Yang terkadang kurang adalah kemauan untuk melihat bahwa ada sesuatu yang lebih besar di luar kebiasaan sehari-hari.
Pemuda juga perlu membangun kembali semangat kebersamaan. Jangan sampai nongkrong hanya menjadi aktivitas untuk menghabiskan waktu. Nongkrong seharusnya bisa menjadi awal dari sebuah gerakan. Dari sekumpulan anak muda dapat lahir kegiatan sosial, olahraga, usaha bersama, kelompok belajar, kegiatan lingkungan, atau bahkan usaha yang mampu menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.
Lebih jauh lagi, pemuda yang lebih dewasa perlu menyadari bahwa mereka sedang menjadi contoh bagi anak-anak yang usianya berada di bawah mereka. Apa yang mereka lakukan dapat dilihat, ditiru, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh anak-anak tersebut.
Jika setiap hari yang mereka lihat adalah orang dewasa yang tidak memiliki semangat belajar, tidak memiliki kegiatan yang jelas, dan hanya mengejar kesenangan sesaat, bukan tidak mungkin mereka akan menganggap kehidupan seperti itu sebagai sesuatu yang biasa.
Sebaliknya, jika mereka melihat kakak-kakaknya rajin bekerja, tetapi tetap belajar, mengikuti pelatihan, mengembangkan usaha, berorganisasi, dan memiliki cita-cita, mereka akan memiliki contoh yang berbeda.
Di sinilah menurut saya pentingnya kesadaran bersama. Pendidikan bukan hanya urusan anak sekolah, orang tua, atau guru. Pendidikan juga merupakan tanggung jawab lingkungan. Seorang anak tidak tumbuh hanya dari apa yang diajarkan di dalam kelas. Dia juga belajar dari apa yang dia lihat setiap hari.
Kita tidak harus mengubah desa dalam satu malam. Tidak perlu langsung membuat program besar. Perubahan bisa dimulai dari hal kecil: mengajak anak muda berkumpul untuk kegiatan yang positif, membuat kelompok belajar, mengadakan olahraga bersama, membantu anak-anak sekolah belajar, atau sekadar membuka percakapan tentang masa depan.
Yang terpenting adalah mengubah cara pandang.
Jangan sampai kita merasa bahwa bekerja setelah lulus SD atau SMP adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Jangan pula menganggap sekolah sebagai kegiatan yang hanya menghabiskan waktu. Setiap orang memang memiliki keadaan dan jalan hidup yang berbeda, tetapi kesempatan untuk belajar seharusnya tidak ditutup hanya karena kita terbiasa melihat orang lain berhenti sekolah.
Desa membutuhkan pemuda yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat dalam cara berpikir. Pemuda yang mampu melihat peluang, menghargai pendidikan, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, dan mau mengajak teman-temannya tumbuh bersama.
Sebab, masa depan sebuah desa tidak hanya dibangun melalui jalan yang bagus, gedung yang berdiri, atau bantuan yang diberikan pemerintah. Masa depan desa juga ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya berpikir.
Jangan sampai masa muda hanya habis untuk nongkrong tanpa arah. Jangan sampai anak-anak yang sedang mencari jalan justru kehilangan mimpi karena melihat contoh yang salah di sekitarnya.
Kalau hari ini kita bisa mengubah satu cara pandang seorang anak tentang pentingnya pendidikan, mungkin dampaknya belum terlihat sekarang. Tetapi beberapa tahun kemudian, bisa jadi anak itu menjadi orang yang membawa perubahan bagi keluarganya, lingkungannya, bahkan desanya.
Dan mungkin, perubahan sebuah desa memang harus dimulai dari sana: dari cara pemudanya memandang pendidikan, masa depan, dan dirinya sendiri.
Bagikan