UMS
Selasa, 20 Januari 2026 11:03 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi mengukuhkan Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, SSTFT., M.Kes., sebagai Guru Besar ke-69 dalam Bidang Kepakaran Fisioterapi Neuromuscular, di Edutorium UMS, Selasa (20/1/2026).
Dalam pidato pengukuhannya, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS ini menyoroti urgensi penanganan stroke yang kini menjadi penyebab kecacatan nomor satu di dunia.
Prof. Umi memaparkan data WHO yang menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung iskemik. Di negara berkembang, 80 persen kasus didominasi oleh stroke iskemik yang merusak sel saraf hanya dalam hitungan menit akibat kekurangan oksigen.
Neurorestorasi: Harapan Baru Pasca Stroke
Sebagai solusi medis, Prof. Umi memperkenalkan konsep Neurorestorasi. Pendekatan ini fokus pada pemulihan saraf melalui mekanisme regenerasi jaringan yang disebut neurogenesis.
"Fisioterapi berbasis pembelajaran motorik menjadi kunci. Melalui latihan terstruktur, kita bisa memicu perubahan permanen pada gerak pasien. Hal ini memungkinkan otak membentuk koneksi baru atau neuroplastisitas," jelas Prof. Umi.
Menurutnya, pemulihan ideal dimulai sejak dini, yakni 1–2 hari pasca serangan. Intervensi awal ini akan merangsang Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein krusial yang berperan memperbaiki fungsi saraf dan menghambat peradangan pada otak.
Ciptakan Alat Pintar "Personal Balance Feedback"
Tak hanya memberikan landasan teori, Prof. Umi juga meluncurkan inovasi teknologi yang dikembangkan bersama tim ahli UMS dan RS Pusat Otak Nasional Jakarta. Alat tersebut diberi nama Personal Balance Feedback (PBF).
PBF dirancang khusus sebagai alat deteksi sekaligus terapi gangguan keseimbangan bagi pasien stroke. Alat ini memiliki beberapa keunggulan:
* Portabel & Akurat: Mudah dipindahkan dan digunakan secara mandiri.
* Teknologi Canggih: Menggunakan sensor IMU, Raspberry Pi, dan aplikasi berbasis web.
* Feedback Real-Time: Pasien bisa melihat keseimbangan tubuhnya melalui monitor secara langsung saat latihan.
"Alat PBF ini sudah mengantongi dua sertifikat paten sederhana. Hasil uji klinis di berbagai rumah sakit menunjukkan korelasi yang sangat kuat dalam memperbaiki stabilitas tubuh pasien," tambahnya.
Dari Riset ke Masyarakat
Dedikasi Prof. Umi dalam bidang ini juga telah dibukukan dalam karya berjudul "Fisioterapi Pasca Stroke: Pendekatan Pembelajaran Motorik". Ia berharap seluruh riset dan teknologi yang ia ciptakan tidak hanya menjadi catatan akademik, tetapi menjadi solusi nyata di masyarakat.
"Kami ingin hasil riset ini benar-benar dimanfaatkan luas oleh para praktisi dan penderita stroke agar mereka bisa kembali beraktivitas dengan mandiri," pungkasnya.
Bagikan