listrik
Jumat, 26 Juni 2026 15:18 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Pemadaman listrik kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia sepanjang 2026, menandakan bahwa sistem kelistrikan nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Gangguan pasokan listrik yang berulang memunculkan kekhawatiran terhadap keandalan infrastruktur energi di berbagai daerah.
Salah satu kejadian terjadi pada 9 Juni 2026 ketika listrik padam secara bersamaan di sejumlah wilayah, mulai dari Depok, Bogor, Gresik, hingga Pulau Madura. Di beberapa daerah, pemadaman berlangsung selama beberapa jam sehingga mengganggu aktivitas rumah tangga, pelaku usaha, hingga layanan publik.
Sebelumnya, pada 22 Mei 2026, sistem kelistrikan Sumatra mengalami blackout massal setelah terjadi gangguan pada jaringan transmisi 275 kilovolt (kV) antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai, Jambi.
BACA JUGA: Mengapa Keputusan MSCI Berdampak untuk Rupiah, IHSG, dan Dana Asing?
Gangguan yang dipicu cuaca ekstrem tersebut berdampak pada ratusan gardu induk, dengan PLN melakukan pemulihan terhadap 176 gardu yang terdampak.
Ironisnya, pada Kamis, 18 Juni 2026, saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan optimisme bahwa tidak akan terjadi pemadaman listrik, PLN pada hari yang sama mengumumkan penghentian sementara pasokan listrik selama tiga jam di kawasan Serpong, Tangerang, akibat kendala teknis operasional pembangkit.
Baca juga : MSCI Turunkan Nilai Transparansi Indonesia, Apa Dampaknya?
“Insyaallah nggak (pemadaman listrik lagi)” kata Bahlildi kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026, dikutip Antara.
Rangkaian kejadian ini memunculkan satu pertanyaan penting: seberapa aman ketergantungan rumah tangga Indonesia terhadap satu jaringan listrik yang sebagian besar masih ditopang pembangkit berbahan bakar batu bara?
Dalam kondisi jaringan listrik yang semakin kompleks, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap mulai dilihat sebagai salah satu cara meningkatkan kemandirian energi rumah tangga.
Perkembangan teknologi dan penurunan harga membuat pemasangan panel surya tidak lagi terbatas untuk kalangan tertentu.
Kapasitas PLTS atap nasional dilaporkan meningkat hampir 10 kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 146 megawatt (MW) pada 2024 menjadi sekitar 1,3 gigawatt (GW) pada 2026. Pemerintah juga menargetkan pengembangan kapasitas energi surya hingga ratusan gigawatt dalam jangka panjang.
Pasar energi surya Indonesia diperkirakan terus berkembang dari sekitar 2,15 GW pada 2025 menjadi hampir 3 GW pada 2026, dan berpotensi mencapai hampir 15 GW pada 2031.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua panel surya dapat menjadi penyelamat ketika listrik PLN mati.
Baca juga : Apakah B50 Aman untuk Innova dan Mobil Diesel Lain?
Sistem on-grid merupakan jenis yang paling banyak digunakan karena biaya pemasangannya lebih murah.
Panel surya terhubung langsung dengan jaringan PLN. Pada siang hari, listrik dari matahari digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah, sementara kelebihan energi dapat disalurkan ke jaringan listrik.
Namun, sistem ini memiliki satu kelemahan besar: saat PLN mengalami pemadaman, inverter otomatis berhenti bekerja sebagai sistem pengaman agar tidak mengalirkan listrik ke jaringan yang sedang diperbaiki petugas.
Artinya, meskipun matahari bersinar terang, rumah tetap bisa gelap ketika PLN padam.
Berbeda dengan on-grid, sistem off-grid menggunakan baterai untuk menyimpan listrik dari panel surya. Energi yang tersimpan dapat digunakan pada malam hari atau saat terjadi pemadaman listrik.
Keuntungan utamanya adalah kemandirian penuh dari jaringan PLN. Namun, investasi awal lebih mahal karena membutuhkan baterai, inverter khusus, dan sistem pengelolaan energi.
Sistem hybrid menggabungkan panel surya, baterai, dan koneksi ke jaringan PLN.
Sistem ini memungkinkan pemilik rumah menggunakan listrik matahari saat siang, menyimpan cadangan energi di baterai, sekaligus tetap mendapatkan pasokan dari PLN ketika dibutuhkan.
Ketika terjadi pemadaman, sistem dapat berpindah secara otomatis menggunakan teknologi Automatic Transfer Switch (ATS) sehingga perangkat penting seperti lampu, kulkas, internet, dan alat elektronik lainnya tetap beroperasi.
Bagi masyarakat yang sering mengalami pemadaman, sistem hybrid menjadi pilihan paling ideal.
Biaya pemasangan panel surya bergantung pada kapasitas dan jenis sistem.
Sebagai gambaran, rumah dengan konsumsi listrik menengah dan satu unit AC umumnya membutuhkan sistem sekitar 2.000–2.200 Wp dengan investasi sekitar Rp22–35 juta.
Dengan asumsi sistem 2.200 Wp menghasilkan sekitar 8 kWh listrik per hari, produksi energi bulanan mencapai sekitar 240 kWh. Dengan tarif listrik sekitar Rp1.445 per kWh, penghematan yang dapat diperoleh mencapai:
Dengan biaya investasi sekitar Rp28 juta, waktu pengembalian investasi (payback period) berada di kisaran 6–7 tahun.
Mengingat usia pakai panel surya bisa lebih dari 25 tahun, pemilik rumah berpotensi menikmati belasan tahun energi dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah dibanding membeli seluruh listrik dari jaringan.
Baca juga : Usai Review MSCI, IHSG Dibuka Naik 0,43 Persen Hari Ini
Sebelum memasang PLTS atap, masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal,
Bagi banyak keluarga Indonesia, panel surya mulai berubah menjadi investasi untuk keamanan energi, penghematan jangka panjang, dan ketenangan pikiran.
Ketika listrik dari jaringan utama padam, pertanyaan yang muncul bukan lagi “mengapa mati lampu terjadi”, melainkan “apakah rumah kita sudah siap menghadapi pemadaman berikutnya?”
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 20 Jun 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 26 Jun 2026
Bagikan